Nenek Minah: Potret Rakyat Kecil & Hukum Indonesia Yang Ironi

Fri, Nov 20, 2009

Berita

nenek-minah-kasus-ironi-hukum-indonesia

Hanya karena 3 biji buah kakau milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) yang senilai Rp 2000,00, nenek Minah di seret ke pengadilan. Nenek miskin nan renta ini terpaksa bolak – balik dari rumahnya ke pengadilan dengan ongkos yang harus di tanggung sendiri. Walaupun nenek Minah sudah mengembalikan kakau ke PT RSA dan meminta maaf, pihak PT RSA tidak serta merta memberi maaf, tapi malah melaporkan ke pihak kepolisian.

Nah, menurut anda bagaimana, pantas nggak ini terjadi ke seorang nenek miskin ini? Bandingkan dengan para koruptor yang korupsi bermilyar – milyar dan bertrilyun – trilyun, hari ini masih banyak yang duduk enak – enak di rumah, bahkan sedang baca blog ini. Inikah wajah Indonesia?

Berikut berita selengkapnya dari www.hariansumutpos.com :

Nenek Miskin Bikin Hakim Menangis
Gara-gara Mencuri Tiga Buah Cokelat
11:48 | Friday, 20 November 2009

Nenek Minah (55) tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah cokelat (kakao) senilai Rp2.000 di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) membuatnya menjadi pesakitan di ruang pengadilan. Bukan itu saja, Nenek Minah diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan.

Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao.

Ketika sedang asyik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah cokelat yang sudah ranum. Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, buah cokelat itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon cokelat.


Dan tak lama berselang, mandor perkebunan cokelat PT RSA menceramahinya. Minah meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. Sepekan kemudian dia diproses polisi sampai akhirnya menjadi terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto.

Kemarin, majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH menyatakannya bersalah melanggar pasal 362 KUHP, tentang pencurian.
Selama persidangan yang dimulai pukul 10.00 WIB, Nenek Minah terlihat tegar. Sejumlah kerabat, tetangga, serta aktivis LSM juga menghadiri sidang itu untuk memberikan dukungan moril.

Suasana persidangan pun berlangsung penuh keharuan. Majelis hakim sempat terlihat ragu menjatuhkan hukuman. Bahkan, Ketua Majelis Hakim, Muslih Bambang Luqmono SH, terlihat menangis saat membacakan vonis.

“Kasus ini kecil, namun sudah melukai banyak orang,” ujar Muslih.

Vonis hakim 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan disambut gembira keluarga, tetangga dan para aktivis LSM yang mengikuti sidang tersebut. Mereka segera menyalami Minah karena wanita tua itu tidak harus merasakan dinginnya sel tahanan.

Memang, sampai saat ini Minah (55) tidak harus mendekam di ruang tahanan. Sehari-hari ia masih bisa menghitung jejak kakinya sepanjang 3 kilometer lebih dari rumahnya ke kebun untuk bekerja.

Ketika ditemui sepulang dari kebun, Rabu (18/11) kemarin, nenek tujuh cucu itu seolah tak gelisah, meskipun ancaman hukuman enam bulan penjara terus membayangi. “Tidak menyerah, tapi pasrah saja,” katanya. “Saya memang memetik buah cokelat itu,” tambahnya.
Amanah (70), salah seorang kakak Minah, mengaku prihatin dengan nasib adiknya. Apalagi penilaian jaksa yang disampaikan dalam dakwaan dinilainya berlebihan, terutama untuk nilai kerugian.

Menurut dia, satu kilogram kakao basah saat ini memang harganya sekitar Rp7.500. Namun kategori kakao basah itu adalah biji kakao yang telah dikerok dari buahnya, bukan masih berada dalam buah. Namun di dalam dakwaan disebutkan nilai kerugiannya Rp30.000, atau Rp10.000 per biji.

Padahal, dari tiga buah kakao itu, kata Amanah, paling banyak didapat 3 ons biji kakao basah. Jika dijual harganya hanya sekitar Rp 2.000. “Orang yang korupsi miliaran dibiarkan saja. Tapi ini hanya memetik tiga buah kakao sampai dibuat berkepanjangan,” kata Amanah membandingkan apa yang dialami adiknya dengan berita-berita di televisi yang sering dilihatnya. (net/bbs)

Artikel lain terkait:

, , , , , , , , , , ,

3 Responses to “Nenek Minah: Potret Rakyat Kecil & Hukum Indonesia Yang Ironi”

  1. achmatim Says:

    miris juga melihat kondisi hukum di indonesia seperti itu.
    .-= achmatim´s last blog ..The Book of Nero 7: CD and DVD Burning Made Easy =-.

  2. admin Says:

    @ achmatim: iya bro, benar2 prihatin.. thanks untuk kunjungannya bro..

  3. Cara Membuat Blog Says:

    Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.

    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Visitor Phrase:

Nenek minah, Sidang nenek minah, muchlis bambang luqmono, kisah nenek pencuri kakao, kisah nenek minah, kasus nenek minah mencuri kakao, kasus nenek aminah yang mencuri kakao tahun 2009, muchlish bambang luqmono, muclish bambang luqmono, muslih bambang luqmono sh, nenek maling pisang dimasukin penjara, nenek mencuri dipenjara korupsi, biodata muchlis bambang luqmono, nenek miskin di banyumas, nenek yg mencuri buah tetangganya, Muchlis hakim yang mengadili mpok minah, download foto potret seorang nenek miskin, kasus hakim muchlis bambang Luqmono dengan nenek minah, kasus nenek nyuri singkong dipenjara, kasus nenek pencuri biji cokelat, kasus nenek tua miskin diadili di indonesia, kasus pencurian Biji kopi, kasus seorang nenek maling pisang, hakim agung muchlis bambang luqmono, gimana kabar Muslih Bambang Luqmono SH?, biodata muchlis bambang lukmono sh

Top Footer