Profil Biografi Evan Dimas Darmono

Mon, Sep 23, 2013

Sport

Satu lagi nama yang sangat menonjol di piala AFF U-19 2013 adalah Ervan Dimas Darmono, seorang gelandang yang cerdas dan sangat bertenaga dan juga top skor timnas Indonesia U-19. Datang dari keluarga yang kurang mampu, Evan Dimas tidak patah semangat dan mampu melewati masa – masa sulit yang harus dijalaninya. Simak kisah profil biografi Evan Dimas Darmono berikut ini:

Evan-Dimas-Timnas-U-19Nama lengkap: Evan Dimas Darmono
Tempat, Tanggal lahir: Surabaya, Indonesia, 13 Maret 1995
Tinggi: 1.63 m (5 ft 4 in)
Posisi: Gelandang
Klub saat ini: Persebaya 1927
Karier junior: SSB Sasana Bhakti, SSB Mitra Surabaya (2007)
Karier senior: Persebaya 1927 (2013)
Tim nasional: Indonesia U-17 (2012), Indonesia U-19 (2013)

Evan Dimas (lahir di Surabaya, 13 Maret 1995; umur 18 tahun) adalah pemain sepak bola berkebangsaan Indonesia yang bermain pada posisi Gelandang. Saat ini ia bergabung dengan klub Persebaya 1927 tapi karena statusnya masih sebagai pemain amatir, ia belum bisa memperkuat klubnya sebelum PSSI mengubah statusnya menjadi pemain profesional. Evan Dimas juga sukses membawa Timnas Indonesia U-19 menjuarai Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 dengan mengalahkan Vietnam di partai puncak.

Foto-Evan-Dimas-Selebrasi-Gol

Evan Dimas adalah seorang putra Surabaya yang lahir dari pasangan Condro Permono dan Ana. Tahun 2012 lalu, ia terpilih masuk ke dalam skuat sepak bola Jawa Timur yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional XVIII di Pekanbaru. Di level tim nasional, ia sudah memulai karirnya di tingkat U-17 sekaligus menyandang ban kapten, sebelumnya ia juga telah mengantarkan Garuda Muda menjuarai turnamen HKFA International Youth Invitation di Hongkong pada tahun 2012. Ia juga merupakan wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat bertajuk ‘The Chance’ dan menjadi satu dari 100 anak yang beruntung bisa dilatih oleh mantan pelatih Barcelona Pep Guardiola.

Sejak pertama kali diajak oleh Ferry Ariawan, saudaranya yang kebetulan tinggal di belakang rumahnya, Evan Dimas langsung jatuh cinta kepada sepak bola. Rasa cinta tersebut kemudian membuat Evan bergabung dengan SSB Sasana Bakti pada usia 12 tahun.

Awal merintis ilmu sepak bola dirasa cukup memberatkan oleh Evan, maklum ketika itu SSB Sasana Bakti berada di kawasan Bogowonto, Surabaya Barat, sementara tempat tinggalnya berada di Ngemplak, Surabaya Utara.

Jarak yang terlalu jauh dan ketiadaan kendaraan untuk mengantar dirinya sehingga kerap datang terlambat bahkan absen latihan. Terkadang untuk mengakalinya Evan harus membawa sepatu bolanya ke sekolah untuk kemudian lanjut berlatih. Kelelahan dan perasaan tidak enak selalu menebeng dengan teman akhirnya membuat Evan enggan melanjutkan belajar di Sasana Bakti.

“Saya bilang kepada ibu saya jika saya ingin pindah ke Mitra Surabaya karena lebih dekat. Selain itu saya tidak memiliki kendaraan sehingga tidak ada yang bisa mengantar saya. Ketika itu ibu tidak setuju, lalu saya bilang kalau tidak pindah saya tidak usah bermain sepak bola lagi,” tutur Evan kepada Tribunnews.com.

Ancaman Evan akhirnya berhasil membuat sang ibu mengalah. Evan akhirnya bergabung dengan SSB Mitra Surabaya yang berada di kawasan Lidah yang lebih dekat dari rumahnya SMP. Karier Evan bersama Mitra Surabaya kemudian meroket hingga akhirnya berhasil mendapat kesempatan mengikuti seleksi bersama Persebaya U-15 dan Medco Jawa Timur U-15 dan Evan berhasil lolos di kedua klub tersebut.

“Sayang saya tidak lolos seleksi SAD. Kegagalan itu tidak membuat saya patah semangat, saya terus berlatih hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi Porprov Jatim dan tim PON Jatim, alhamdulillah masuk. Kemudian coach Indra Sjafri memanggil saya untuk mengikuti seleksi tim nasional U-17,” ujar Evan.

Evan Dimas Darmono terpilih untuk memperkuat tim Jawa Timur pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. Pemain Persebaya 1927—peserta Liga Primer Indonesia—ini juga membawa timnas U-17 juara HKFA International Youth Invitation Tournament di Hong Kong pada 2012.

Hidup dalam keterbatasan ekonomi tidak lantas membuat Dewi Fortuna meninggalkan kapten tim nasional Indonesia U-19, Evan Dimas Darmono. Gelandang Persebaya 1927 ini justru mendapat banyak bantuan dari orang-orang di sekitarnya.

Sepatu sepak bola pertama Evan Dimas hanya seharga Rp 15.000,-. Usia sepatu tersebut hanya bertahan selama 3 minggu. Namun demikian Evan termasuk anak yang beruntung.

Hidup dalam segala keterbatasan, Evan tetap mendapatkan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya seperti saudara. Sepatu seharga Rp 15.000,- miliknya yang rusak itu kemudian diganti oleh sepatu merek Contra yang diberikan oleh kakak Ferri Ariawan.

“Banyak sepatu saya yang kemudian dibelikan oleh orang-orang kampung. Kebanyakan sepatu saya diberikan oleh orang, daripada saya beli sendiri,” kata Evan yang tidak ingat berapa jumlah sepatu yang diberikan oleh orang lain.

Setelah meniti karier di Persebaya pun Evan juga masih mendapat bantuan dari keluarganya. Adalah orang yang dia sebut sebagai Bapak, yaitu Hari, saudara ipar ibunya. Meski bukan ayah kandung, Bapak terus mendukung Evan. “Dia membelikan saya sepatu dan mengantarkan saya ke mana pun untuk urusan sepak bola,” ujar Evan.

Sumber: tribunnews[dot]com, kompasiana[dot]com, goal[dot]com, batampos[dot]co[dot]id, jawapos

>>  Download Gratis Wallpaper Evan Dimas Timnas Indonesia AFF U-19 2013   <<

Sejuta Kisah Hingga ke Barcelona

Ana masih ingat betul betapa kelimpungannya dia dan sang suami, Darmono, ketika anak sulung mereka yang saat itu berumur 9 tahun, Evan Dimas, meminta sepatu bola. Maklum, mereka bukan orang berada: Ana hanya ibu rumah tangga, sedangkan Darmono berjualan sayur keliling sebelum beralih profesi menjadi petugas keamanan.

Ketika itu, Evan yang getol bermain sepak bola sejak usia tiga tahun memang sudah merengek minta didaftarkan ke Sekolah Sepak Bola Sasana Bhakti, Surabaya. Otomatis dia harus memiliki sepatu bola. “Demi anak, kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20.000. Yang murah-murah saja wis, asal Evan senang,” kenang Ana yang bersama keluarga berdomisili di sebuah rumah sederhana di kawasan Ngemplak, Surabaya.
Sepatu tersebut ternyata tak cuma membuat Evan bungah.

Foto-Evan-Dimas-Bersama-Keluarga

Tapi, sekaligus juga menandai awal perjuangan dia hingga bermuara kepada berbagai prestasi membanggakan. Misalnya, menjadi kapten timnas U-17 Indonesia yang sukses menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012 di Hongkong pada Januari lalu.

Yang paling mutakhir, Evan yang kini berusia 17 tahun terpilih sebagai satu di antara empat pemain muda terbaik dari kawasan Asia Tenggara dalam ajang Nike The Chance. Pemain yang berposisi sebagai gelandang itu merupakan satu-satunya dari Indonesia. Tiga pemain lainnya adalah Rahmat Che Hashim (Malaysia/penyerang), Faris Ramli (Singapura/gelandang), dan Napapon Sripratheep (Thailand/gelandang).

Mereka bakal dikirim ke akademi sepak bola terbaik di dunia saat ini, La Masia, milik Barcelona. Pep Guardiola, eks pelatih Azulgrana “julukan Barcelona” juga dijadwalkan memberikan materi latihan.

Evan akan berangkat meninggalkan tanah air pada 15 Agustus ini. Sore ini dia rencananya dilepas dalam sebuah acara buka puasa bersama keluarga besar Mitra Surabaya.

Evan dan tiga pemain dari Asia Tenggara tadi bakal digabung dengan 96 pemain lainnya dari seluruh dunia yang akan diseleksi selama sepuluh hari di La Masia. Mereka selanjutnya diperas menjadi tinggal 16 pemain.

“Saya tidak menyangka bisa mendapat kesempatan ini,” ujar pemain bertinggi badan 163 cm dengan bobot 55 kilogram yang dididik di SSB Mitra Surabaya sejak berusia 11 tahun itu bangga.

Evan memang pantas bangga. Sebab, dia dan tiga rekannya yang terpilih tersebut mengalahkan ribuan pemain berusia 16-23 tahun yang mengikuti seleksi di empat negara Asia Tenggara. Di Indonesia, penyaringan diadakan di tiga kota: Surabaya, Medan, dan Jakarta. Khusus Surabaya, pesertanya tercatat 750 orang.

Karena prestasinya bersama timnas U-17, remaja bernama lengkap Evan Dimas Darmono itu berhak langsung tampil di semifinal di Jakarta. Di antara 30 pemain, tersaring lima orang saja yang berhak melaju ke final. Yaitu, Evan, Randy Chandra, Rainhard Romario, Eriyanto, dan Apriyono. Mereka lantas disandingkan dengan masing-masing lima pemain terbaik dari Malaysia, Singapura, dan Thailand di Jakarta pada 10-13 Juni lalu.

Dua puluh pemain itu tak cuma digembleng latihan, namun juga diadu dengan membagi mereka menjadi dua tim di Gelora Bung Karno, Jakarta: Nike The Chance A dan Nike The Chance B. Posisi penjaga gawang sengaja diambil dari luar peserta seleksi. “Seleksinya sangat ketat. Saat itu saya tergabung di tim B dan berhasil menyumbangkan satu gol,” kenang remaja berzodiak Pisces itu.

Setelah laga yang dimenangkan tim A dengan skor 4-3 itu, empat pelatih dari empat negara, yakni Widodo C. Putro (Indonesia), Nophol Pibulvech (Thailand), Ong Kim Swee (Malaysia), dan V. Sundramoorthy (Singapura), plus Simon McMenemy (pelatih tim A) dan Yeyen Tumena (pelatih tim B), melakukan evaluasi. Hasilnya, terpilihlah empat pemain tadi.

Foto-Evan-Dimas-di-Barcelona

Mantan kapten Persebaya Mursyid Effendi menganggap Evan memang sangat pantas terpilih mewakili Indonesia. Mursyid yang membawa Evan masuk ke skuad Mitra Surabaya yang tampil di Kompetisi Internal Persebaya bahkan menyebut pengagum Xavi Hernandez itu sebagai “anak ajaib” karena luar biasanya talenta anak pertama di antara empat bersaudara itu.
Cak Mung -sapaan akrab Mursyid- juga masih ingat protes dari panitia ketika dia pertama mendaftarkan Evan di Kompetisi Kelas I Persebaya.

Alasannya, usia Evan masih terlalu muda. “Tapi, saya tetap ngotot Evan harus tetap bermain. Dulu Yusuf Ekodono saja bisa membela Persebaya saat berusia 16 tahun dan kami menginginkan Evan juga bisa mengikuti jejak itu,” ujar legenda Persebaya tersebut.

Di mata Mursyid, Evan adalah sosok gelandang ideal. Mobilitas tinggi, visi bagus, dua kaki sama-sama hidup, dan insting golnya juga cukup tajam. “Evan saat ini tinggal berkosentrasi untuk membesarkan bentuk badannya. Kalau sudah begitu, dia baru akan terlihat sempurna di dalam lapangan,” katanya.

Sedangkan Ketua SSB Mitra Eko Prayogo meminta Evan agar terus membenahi kelemahan terbesarnya: kontrol emosi. “Evan itu gampang emosi kalau diganggu lawan. Karena itulah, di kompetisi Persebaya semua pelatih tim lawan Mitra sepertinya sengaja menginstruksi pemain khusus untuk memancing emosi dia,” tutur Eko yang juga karyawan Jawa Pos itu.
Kini menjelang hari-hari keberangkatan, selain tetap rutin berlatih, Evan mulai melakukan sejumlah persiapan penting. Termasuk mendatangkan guru bahasa Inggris ke rumahnya yang sederhana. “Sementara ini masih belajar cara komunikasi harian. Kemungkinan bulan berikutnya baru naik level ke yang lain,” ujar penggemar tenis meja yang mengenal sepak bola dari sepak bola jalanan di depan rumahnya itu.

Evan juga mulai membiasakan diri dengan kebiasaan kehidupan Eropa, termasuk makanan masyarakat di sana. “Sebab, dengar-dengar di sana tidak ada nasi, yang ada hanya roti. Jadi jaga-jaga saja kalau akhirnya beneran ndak ada nasi di sana,” ungkapnya, lantas tersenyum.

Menurut Evan, semua persiapan itu dilakukan karena tak ingin membuang kesempatan ini. Sebab, ini adalah kesempatan kedua dia untuk belajar sepak bola di luar negeri. Sebelumnya, pada 2009, nama Evan sempat masuk daftar SAD (Sociedad Anonima Deportivo) yang belajar sepak bola di Uruguay. Namun, entah mengapa, namanya dicoret seminggu sebelum pemberangkatan.

Untung, setelah mendengar kabar itu, Evan tidak putus asa. Dengan dukungan dan motivasi dari rekan-rekannya di Mitra Surabaya, pemain yang saat ini menjadi andalan tim Jatim di PON 2012 di Riau itu bisa bangkit. Buktinya, dua tahun kemudian Evan dipercaya untuk memimpin timnas U-17 di Hongkong. Kemudian, disusul kesempatan berlatih di Barcelona ini.

Walhasil, sejumlah klub besar tanah air kini mulai melirik Evan. Ganesha Putera, sekretaris teknik Persija Jakarta, misalnya, bahkan secara langsung datang ke Surabaya khusus untuk meminangnya. “Itu soal nanti. Yang penting sekarang Evan berkonsentrasi latihan di Barcelona dulu,” kata Eko Prayogo.

>>  Download Gratis Wallpaper Evan Dimas Timnas Indonesia AFF U-19 2013   <<

Artikel lain terkait:

, , , , , , , , , , ,

Trackbacks/Pingbacks

  1. Wallpaper Evan Dimas Timnas Indonesia AFF U-19 2013 | Blog B724S - 23. Sep, 2013

    […] Simak juga Profil Biografi Evan Dimas Darmono di sini  >> […]

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Visitor Phrase:

barcelona, evan dimas darmono, profil evan dimas, download foto Evan Dimas, latar belakang evan dimas, biografi evan dimas, evan dimas, wallpaper evan dimas, latar belakang evan dimas darmono, ervan dimas, profil evan dimas darmono, kisah evan dimas, kehidupan evan dimas, evan dimas di barcelona, foto evan dimas di barcelona, alamat rumah evan dimas, tinggi badan evan dimas, latar belakang ivan dimas darmono, PROFIL IVAN DIMAS, biografi evan dimas dalam bahasa inggris, alamat rumah evan dimas darmono, biodata evan dimas, sepatu evan dimas, evan dimas anak keberapa, Adik kandung Maldini pali, biografi timnas u19, tinggi evan dimas, gambar ifan dimas, tinggi badan eva dimas, kisah perjalanan evan dimas, sepatu bola evan dimas, rumah evan dimas darmono, Merk Sepatu maldini pali, riwayat pendidikan evan dimas, Photo EVAN DIMAS U-19 coom, www riwayat hdp kapten u 19, Sekolah Smp evan dimas, Saudara kandung maldini pali, satatus pendidikan evan dimas, rumah tinggal evan dimas darmono, Rumah evan dimas u19, Biodata evan dimas pemain sepak bola u19 di manakah dia sekolah, biodata evan dimas u19 beserta gambarnya, riwayat hidup evan dimas darmono sampel jadi sukses, profil keluarga coach indra, Biodata ivan dimas U19, profil evan dimas u-19, biografi aktor dalam bahasa sunda, profil evan dimas bserta tmpat tinggalnya, biografi evans dimas, profesi sepak bola dengan bahsa jawa, prestasi evan dimas timnas U19, sepatu bola dipakai evan dimas, biodata evan dimas darmono, biodata evan dimas dan perjuangannya, alamat tempat tinggalnya evan dimas darmono, usia berapa evan dimas bergabung dengan persebaya, tinggi ivan dimaz, tinggi evan dimas darmono, Berapa tinggi badan evan dimas darmono, Tinggi eva dimas, tinggi badan seorang evan dimas, Tinggi badan ivan dimas, Tinggi badan Evan dimas Naik, tinggi badan evan dimas darmono, Tinggi badan evan dimas 2014, Berapakah harga sepatu evan dimas darmono, kapan ivan dimas masuk skuad indra sjafri, sosok ivan dimas, smp evan dimas, sepatu maldini pali, poto2 evan dimas yg besar, poto evan dimas kostum barca, cara berlatih evan dimas darmono, ifan dimas dan kawan - kawan, ifan dimas, gambar sepatu evan dimas, gambar sepatu bola maldini pali, downlud foto evan dimas, fropil evan dimas darmono, foto pemain bola u19 ivan dimans, foto kakaknya evan dimas, foto evandi mas u19, foto evan dimas di timnas u 19 piala aff, evan dimas dan xavi, foto evan dimas darmono, Foto evan dimas, foto evan diman dan kawan kawan, foto evadimas rumah evan dimas, foto erpan dimas, Ifan dimas U 19, image evan dimas pakai jersey barcelona, ivan dimas capten timnas, perjalanan ivan dimas, perjalanan evan dimas darmono, pasangan pemain bola, carita messi bahasa sunda, Merk sepatu bola diadora U 19 indonesia, mendaftar Ssb U-19 surabaya, cerita epan dimas seblum sukses, cerita masing2 timnas u19, contoh biografi tokoh idola basa sunda, crita tenta evan, download foto dan riwayat evan dimas, kisah awal perjuangan Evan Dimas Darmono, keluarga evan dimas, keluarga besar evan dimas, Biodata Tentang Evan Dimas Darmono versi Bahasa Inggris, downloand riwayat hidup ivan dimas, FOTO DAN CERITA EVAN DIMAS

Top Footer